“Bermimpi
hanyalah untuk orang-orang yang tidak punya hal lebih baik untuk dilakakukan.”
(Hal. 72)

Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith
Listiandri
Penyunting: Selsa
Chintya
Proofreader: Titish A.K
Design Cover:
@hanheebin
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama,
Agustus 2016
Jumlah hal.: 900
halaman
ISBN:978-602-74322-3-9
Putir
Winter dikagumi oleh penduduk Bulan karena kebaikan hatinya. Meskipun ada luka
di wajahnya, banyak orang bulan yang mngatakan bahwa Sang Putri lebih cantik
daripada Ratu Levana.
Iri
dengan Sang Putri yang dianggapnya lemah dan gila, Levana memerintahkan Jacin
Clay, pengawalnya, untuk mengawasi Winter agar tidak mempermalukan sang Ratu
dan kerajaannya. Namun Winter menyukai Jacin, hal itu justru membuatnya semakin
terlihat lemah.
Hanya
saja, Winter tidak selemah yang Levana kira. Besama dengan Cinder, sang
mekanik, dan para sekutunya, mereka bahkan mungkim bisa membangkitkan sebuah
revolus dan memenangkan perang yang sudah berkecamuk terlalu lama.
Daptkah
Cinder, Scrlett, Cress dan Winter mengalahkan Levana dan mendapatkan
kebahagiaan mereka selamanya?
***
“…,
beberapa orang mungkin mengatakan bahwa melakukan hal yang benar adalah hadiah
itu sendiri.” (Hal. 156)
Petualangan
Cinder, Scarlet, dan Cress kini berlanjut. Dan seorang tokoh baru bergabung
dalam perjuangan mereka melawan Ratu Levana. Ia adalah Winter. Winter adalah
anak tiri Ratu Levana.
Winter
adalah orang bulan yang menolak menggunakan anugerahnya. Ini membuat Winter
menderita kegilaan dalam taraf tertentu. Ia sering kali kesulitan membedakan
mana yang nyata dan mana yang merupakan imajinasinya. Namun ini tidak terjadi
sepanjang waktu. Hal ini karena sejak kecil Winter didampingi oleh Jacin
berusaha meminimalisir “kegilaan” yang disebabkan oleh sikap Winter yang enggan
menggunakan kemampuan bulannya, kemampuan untuk memanipulasi.
Oiya,
tokoh Jacin Clay ini adalah tokoh yang sebelumnya telah muncul dalam buku
ketiga The Lunar Chronicles, Cress. Jacin adalah pengawal Sybil yang
sempat ikut dalam rampion dan sempat menolong Cinder meski pada akhirnya ia
mengkhianati Cinder dan kawan-kawan.
Jacin
dan Winter memiliki hubungan yang rumit. Saling mencintai namun harus saling
menjaga. Hingga akhirnya keluarlah perintah itu. Ratu Levana menyuruh Jacin
untuk melenyapkan Winter sebab Levana merasa bahwa Winter adalah ancaman bagi
kekuasaannya. Rakyat bulan menyukai Winter, mencintainya tanpa syarat. Berbeda
dengan Levana. Ia harus memanipulasi mereka untuk bisa mendapatkan cinta dan
kepatuhan rakyat bulan.
Bagaimana
nasib Winter? Bagaimana hingga akhirnya ia bisa bergabung dengan Cinder dan
kawan-kawan yang kini menjejak di bulan demi mengalahkan Levana, memulai
revolusi di bulan dan mengembalikan hak Cinder sebagai ratu di bulan.
Berhasilkan
rencana Cinder dan kawan-kawan dalam menggulingkan kepemimpinan Ratu Levana di
bulan?

***
“Cinta
adalah sebuah penaklukan. Cinta adalah perang. Itulah cinta.” (Hal. 809)
Winter ini adalah seri
terakhir dari The Lunar Chronicles  yang ditulis Marissa Meyer. Buku ini lebih
tebal dari buku sebelumnya karena tokoh utamanya kembali bertambah. Kali ini
ada Winter, putri tiri Levana.
Dari
judulnya, Readers pasti bisa menebak, kali ini penulis me-retelling dongeng apa? Yup kali ini kisah Putri Salju. Ratu Levana
sebagai ibu tiri yang jahat. Dan ia memang memerintahkan agar Winter di bunuh.
Bahkan adegan saat sang ratu meracuni putri salju dengan sebuah apel juga ada
di dalam cerita namun tentu saja dengan cara yang unik dan “berbeda”.
Sejak
awal kekuatan The Lunar Chronicles adalah bagaimana penulis mampu membuat
kehidupan yang diceritakan tidak terasa jauh dari kenyataan. Meskipun untuk sci-fiction cukup terasa di dalam novel.
Teknologinya bukanlah teknologi yang benar-benar mustahil menjadi kenyataan.
Perkembangan teknologi kita memang ke arah sana.
Di
sisi lain, penceritaan ulang dongeng ini tetap menarik tanpa menghapus
bagian-bagian penting dalam dongeng tersebut. Dan “modifikasi” yang
dilakukannya menarik. Di Cinder ada kisah tentang anak tiri yang disiksa, pesta
dansa, dan sang pangeran. Pun di Winter ini, ada huntsman, apel beracun dan ratu yang jahat. Semuanya adalah bagian
penting cerita yang membuat pembaca bisa menebak dongeng apa yang di-retelling namun dengan sensasi yang berbeda.
Tidak
banyak yang mau saya kritisi tentang karya ini mengingat saya bukan orang yang
pandai tentang teknologi. Lagipula cara penulis menuturkan cerita adegan per
adegan terasa menarik. Kisah percintaan mampu berpadu dengan pas dengan adegan
menegangkan saat Cinder berusaha melakukan perlwanan atas kekuasaan Ratu
Levana.
Oiya,
seri The
Lunar Chronicles
ini juga berhasil mengetengahkan dengan baik hal-hal
terkait perang. Seperti akibat dari perang yang cukup banyak digambarkan dalam
buku pertama dan kedua. Bagaimana peradaban hancur akibat perang. Dan dalam
buku keempat ini ditampilkan bagaimana senjata biologis berupa penyakit mampu
membuat salah satu pihak memiliki peluang lebih besar memenangkan perang.
Membaca
Winter secara khusus dan serial The Lunar Chronicles pada umumnya,
memberika kesenangan yang menarik saat membacanya.