Penulis: R.J Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
Cetakan: I, September 2012
Jumlah hal.: 430 halaman
ISBN: 978-979-024-508-2
Don’t judge a book boy by its
cover
his face
“Kuharap,
setiap hari adalah Hallowen. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu
kita bisa berjalank-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita
di balik topeng.”
August
(Auggie) Pullman lahir dengan kelainan ­Mandibulofacial
Dysostosis
, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa.
Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja
terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah
anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.
Auggie
mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang
dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti
tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie
adalah anak biasa dengan wajah yang tidak biasa.
***
Arghh..
tampaknya daftar buku favorit bertambah satu lagi yakni novel Wonder karangan
R. J Palacio ini. Awalnya saya tertarik membaca Wonder karena melihat
cuplikan yang dibuat oleh anggota Blogger Buku Indonesia lainnya. Selain itu
cukup banyak yang merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Maka mantaplah tekad
saya untuk membelinya. Bahkan buku ini adalah buku yang saya beli sebagai
hadiah ulang tahun untuk diri sendiri *ada gitu orang yang memberi hadiah
ulang tahun untuk dirinya? Ada. Saya orangnya
*
Saat menulis resensi
ini saya heran karena buku  Wonder yang saya beli September lalu adalah
cetakan I yang keluar pada September 2012. Hm..rasanya aneh buku ini tidak
digandrungi. Tapi lupakanlah. Bukankah begitu? Tren buku itu suka terlambat.
Tidak jarang, buku-buku yang sudah lebih dulu mendapat pengakuan di dunia
internasional baru mendapat sambutan luas di Indonesia beberapa tahun kemudian.
Hm..sebut saja The Hobbit. Buku itu pun tidak terlalu terkenal di Indonesia.
Ok, di luar
animo masyarakat Indonesia, saya malah melihat bahwa novel ini adalah salah
satu bacaan yang sebaiknya dibaca oleh banyak orang. Wonder bercerita tentang
Auggie yang mengalami kelainan ­Mandibulofacial
Dysostosis
(sejujurnya saya pun baru tahu tentang penyakit tersebut saat
membaca novel ini). Kelainan ini adalah anomali gen (saya tidak hafal
penjelasan medisnya, dan rasanya pasti akan membosankan jika saya
menyebutkannya di sini). Penyakit ini membuat Auggie memiliki wajah yang
benar-benar “berbeda” dari anak-anak normal lainnya. Matanya yang posisinya
sangat rendah. Telinganya yang tampak mencuat, dan wajah yang tidak simetris.
Kelainan ini membuat Auggie dan kelurganya; yakni Ayah, Ibu, dan kakaknya, Via;
harus terbiasa menghadapi pandangan aneh orang kemanapun mereka pergi bersama.

Awalnya Auggie
tidak bersekolah. Ia belajar dari pengajaran privat ibunya,
Isabel, yang bahkan bukan seorang guru. Hingga akhirnya ibunya mengusulkan agar
Auggie bersekolah di sekolah umum untuk kelas 5. Nah, di sinilah semua
cerita mengalir. Auggie yang harus mulai terbiasa muncul di depan banyak orang.
Ia pun harus menghadapi hubungan personal dengan teman-teman yang ada di kelas
dan sekolahnya.
Auggie selalu
menyadari bahwa dirinya berbeda. Wajahnya membuat banyak orang ngeri dan tidak
sedikit yang merasa jijik saat harus berhadapan dengannya. Ini bukan hal yang
mudah untuk dihadapi seorang anak berusia sepuluh tahun.
Hm..izinkan saya
menyebutkan beberapa perlakuan orang padanya. Memang tidak ada yang secara
langsung mencela Auggie, namun tidak ada yang mau duduk di sampingnya atau
di depannya selain Summer, seorang gadis kecil yang sangat cantik dan baik hati.
Tidak ada yang bermaksud memukulnya, namun semua orang tidak ingin bersentuhan
dengannya seolah ia adalah sebuah wabah, orang yang memiliki penyakit menular.
Selain itu, buku
ini akan menceritakan pandangan personal orang-orang yang bergaul dengan
Auggie. Ada Via atau Olivia, kakak Auggie, yang sebenarnya jauh di dalam
hatinya menyimpan beban atas posisinya sebagai kakak Auggie. Terkadang ia malu,
namun sering kali ia mengabaikannya. Sayangnya Olivia yang baru saja masuk ke
Sekolah Menengah Atas harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Banyak dilema
yang dirasakan oleh Via. Dilema ini pula yang mungkin dirasakan oleh orang-orang yang memiliki saudara
seperti August ataupun yang memiliki saudara yang menyandang disabilitas.
Selain itu ada
juga cerita dari Summer dan Jack, teman-teman yang benar-benar menyukai August.
Orang yang bisa melihat August di dalam permukaan kulit dan wajahnya yang
“berbeda”. Ada juga sudut pandang Justin, pacar Olivia, yang membuat saya
pribadi semakin menyadari tentang perlunya saya bersyukur atas semua yang saya
miliki. Serta Miranda, sahabat Olivia, yang selalu mencintai August dan
menyayanginya seperti adiknya sendiri.
Di akhir buku
ini, kita disuguhi tentang indahnya merayakan keberasamaan dan kebaikan hati.
Bagaimana dunia akan semakin indah jika semua orang mau bersikap baik pada orang
lain. Bagaiman sosok seperti Auggie mengajarkan kita tentang keberanian,
kebesaran hati, dan ketabahan. Saya menangis membaca akhir buku ini. Saya ikut
merasakan kebahagian yang dirasakan Auggie saat dia menyadari bahwa semua orang
kini melihatnya sebagai Auggie, bukan sebagai anak laki-laki berwajah aneh.
Hm..thanks to
Penerbit Atria (yup, nama penerbitnya sama dengan nama depan saya..ha..ha..)
yang menerbitkan buku ini. Buku ini sarat dengan nilai-nilai moral. Dan jujur
saja saya lebih menyukai buku ini dari The Fault in Ous Stars karya John Green
yang juga banyak dirokumendasikan oleh BBIers.
Hm..Nilai??
sampulnya yang simple menarik kok. Ceritanya juga kuat dan saya sukai, jadi
wajar jika menurut skala 1 – 10 saya
memberinya nilai 9
(^_^)
Quote:
“Di dunia ini akan selalu ada orang-orang
brengsek, Auggie,” Mom berkata sambil menatapku. “Tapi aku benar-benar yakin,
dan Daddy juga yakin, di dunia ini lebih banyak orang baik daripada orang
jahat, dan orang-orang baik selalu melindungi dan saling menjaga…”
Banyak pemahaman
yang menarik di dalam buku ini seperti pemahaman Justin bahwa meskipun alam memberi
Auggie cobaan yang begitu berat, namun ternyata alam semesta tidak mengabaikan
Auggie. Auggie diberi anugerah berupa orang-orang yang mencintainya dengan
tulus, yang bahkan Justin sendiri ragu apa dia memiliki hal itu. (baca halaman
277)