Tepat satu setengah tahun yang
lalu aku memilih untuk membiarkan seseorang ada di sampingku untuk berbagi
banyak hal bersama. Meski awalnya keraguan menggelayutiku, namun pada
akhirnya aku hanya berfikir akan membiarkannya mengalir seperti air. Arus yang
membawaku benar-benar lembut. Hingga akhirnya kami menjadi saling terbiasa satu
sama lain.
Aku terbiasa mengisahkan semua
hal yang kutemui. Warna hariku terasa buram tanpa membaginya dengannya. Setiap
kekesalanku kutumpahkan dan kutuangkan sederas-derasnya padanya saat kami
bertemu. Dan dia dengan sikap cuek dan nampak tidak peduli dan terkesan tidak
serius ternyata tetap menyediakan sekantong besar ruang untuk menampung
semuanya. Aku yang selalu cemberut dibuatnya pada akhirnya hanya bisa tersenyum
dan tertawa menyadari sikapnya yang tidak ingin memamerkan perasaanya di depan
umum.
Dia adalah orang yang ketika
kepalaku terhantuk sesuatu akan segera mengusapnya dan berkata, “Ah gak sakit
kok! Iya kan tidak sakit?”. Mungkin kesannya dia tidak peduli, tapi aku tahu
itu karena ia ingin aku segera melupakan rasa sakit itu. Dia juga adalah orang
yang ketika aku mengeluh bahwa demam menyerangku akan segera menceramahiku
dengan berkata, “Ada orang yang kemarin minum juice dingin padahal sudah tau
lagi flu,” atau berkata “Memangnya semalam tidur jam berapa? Begadang lagi
ya?”. Mungkin kesannya menghakimi, namun disetiap akhir telepon atau sms kami
dia akan sibuk memaksaku untuk tidur lebih awal dan makan teratur serta makan
sebanyak mungkin. (^_^) Dan aku paham sikapnya seperti itu sebagai teguran
bagiku yang suka tidak peduli pada kesehatanku sendiri.
Dia adalah orang yang ketika kami
jauh dan aku berkata aku sendirian di rumah akan bersedia memasrahkan
telinganya menjadi panas untuk menemaniku hingga aku tidak sendirian atau
hingga aku akan terlelap. Meski terkadang selama obrolan dia akan selalu
berusaha membuatku cemberut atau marah. Namun aku mulai paham bahwa itu adalah
cara dia untuk melihat senyumku yang akan merekah setelah cemberut sesaat padanya.
Dan jika bahan obrolan kami habis maka kami akan memperdebatkan hal-hal yang
kami tidak sepaham. Dan selalu dengan sukses membuat saya kesal dengan
kengototannya menjadi pihak yang benar. Tapi, aku menikmati perdebatan itu.
Karena itu menjadi salah satu warna dalam komunikasi kami.
Dan kini meskipun hal itu telah
berubah dan kian memudar. Tergantikan oleh hal-hal yang membuat kisah kami kian
sulit dijalani. Namun aku hanya terus berharap semoga moment itu akan kembali
dan menjadi kian indah dalam bingkai kehalalan dariNya..insyaAllah..