Pagi ini Bandung
cerah, rasanya berjalan-jalan keliling kota bisa menjadi salah satu alternatif menyenangkan. Berbekal sebuah smartphone maka banyak aktivitas yang
bisa dilakukan termasuk mengabadikan hal-hal yang menarik untuk diceritakan
kembali ke teman-teman atau saudara.
Abad 21 datang
membawa teknologi yang semakin maju dan kini tumbuh dengan pesat. Benar-benar
memudahkan kita berkomunikasi dengan SIAPA PUN! Dan kini era smartphone datang dan membanjiri toko
serta mewarnai kehidupan manusia.
Dahulu, untuk
jalan-jalan seseorang harus membawa kamera, handphone,
bahkan tape recorder untuk membuat
cerita yang menyeluruh tentang hal menarik yang mereka temui. Kini, berbekal
sebuah smartphone semua cerita bisa
kita lengkapi dengan foto dan vidoe serta siap di posting ke berbagai akun
media sosial dan dikirim ke email
sahabat yang ada di belahan dunia lain.

Ya, teknologi
sudah berhasil memudahkan (bahkan sebenarnya memanjakan) kita. Tapi, kok
rasanya ada yang berubah yah? Berubah bagiamana maksud kamu, Tria??
Iya,
berubah. Berubah menjadikan kita terlalu sibuk untuk sekedar bercengkrama
dengan kelurga. Tidak lagi punya waktu untuk serius mendengarkan curhat sang
adik atau cerita papa tentang masa kecil beliau.

Teknologi ini
dibuat untuk memudahkan manusia agar tetap smart
and easy dalam berbagai kondisi.
Lihat saja, saat akan ngobrol dengan gebetan yang hobi nonton film kita bisa segera
googling untuk mendapatkan info
terbaru tentang dunia perfilman; mulai dari film terbaru serta informasi
tentang festival-festival film serta film-film keren yang diputar di sana. Atau
bagi yang kuliah dan baru tahu bahwa sejam lagi ada quiz dari sang dosen killer tentang kasus di negara tertentu, waktu
satu jam bisa kita manfaatkan untuk browsing
kondisi, (kemungkinan) penyebab, dan pendapat sejumlah ahli tentan kasus itu. 
Sayangnya, kini
kita terlalu terbuai (atau terbiasa?) menatap layar telepon genggam daripada
wajah orang-orang di sekitar kita. Seharusnya manusia bisa lebih pandai
menyikapi teknologi. Kitalah yang seharusnya mengatur teknologi ini bukan kita
yang dikuasai teknologi. Seseorang yang smart
seharusnya mampu menggunakan teknologi sebagai pendukung kreativitasnya.
Bukannya malah menjadi hambatan. Teknologi seharusnya memudahkan kita
berkomunikasi bukannya menjadi orang yang tidak bersosialisasi.


Saya kenal
seseorang yang menghabiskan hampir semua waktunya di depan smartphone yang dia miliki. Dia memang bekerja freelance, katanya (mungkin) agar dia bisa tetap memperjuangkan dan
mempertahankan idealismenya. Saat menghadiri rapat, dia memang sibuk dengan
handphone tapi begitu rapat dimulai maka ia akan mengabaikan handphone-nya totally. Ya, ternyata dia memanfaatkan
handphonenya untuk browsing berbagai info penting untuk mengisi waktu hingga
rapat dimulai. Jelas ini berbeda dengan saya yang saat itu menunggu sambil chit-chat membicarakan kota Bandung
dengan cowok cakep di samping saya (ok..silahkan menuduh saya sedang pedekate).
Terlihatkan siapa yang jauh lebih pintar memanage waktu? Oiya, bukan berarti
dia mendadak tidak peka sama sekitar karena asyik mojok dengan smartphone. Dia
selalu menanggapi obrolan semua orang dan bahkan menjawab sejumlah pertanyaan
teman karena bagi kami dia sosok yang serba tahu. (bocorannya dia sering googling banyak hal dan membaca banyak
hal dari hasil googling-nya itu. Mungkin
ini ya yang dinamakan smart dengan
dibantu teknologi?).
Nah, di lain
waktu saya tahu bahwa dia jaaauuuuuhhhh lebih produktif dari saya yang suka “nyampah”
di blog dan akun media sosial. Di blog ini saya pernah bercerita tentang semua
akun sosial yang saya miliki dan seberapa “produktif” saya memposting tulisan
ke dalamnya (jika memposting status bisa termasuk “produktif”). Dan dalam
seminggu itu saya berhasil menulis 20 halaman tugas akhir saya, memposting
sekitar 5 -7 postingan di berbagai blog yang saya miliki, dan membaca sejumlah
buku. Sedangkan dia, saya tahu kemudian bahwa dalam seminggu itu berhasil
memposting sekitar 5 tulisan di blognya tentang sejarah kota Bandung,
menyelesaikan satu buku (dia menjadi penulis dan editor utama sedangkan saya
haya menyumbang satu tulisan singkat di dalamnya) tentang sejarah salah satu
tokoh di Bandung, dan katanya dia juga sedang menyelesaikan 2 buku lainnya. Ya
Allah, saya malu donk! Di tengah semua banjir produktifitas itu dia tetap bisa
menjadi admin media sosial 2 akun umum.
Ya ampun..keren
kan? Itu yang namanya smart. “Sumpah
malu bangetlah dengan kemampuan orang ini memanage diri dan waktunya”.  Ada yang bilang itu karena dia lebih tua tapi saya
rasa semua itu tidak ada hubungannya dengan umur. Saya kemudian menemukan bahwa
ada sosok lain yang lebih tua yang ternyata jauh lebih produktif lagi dengan
tingkat mobilitas tinggi. Ia seorang budayawan yang salah satu bukunya bahkan
diberi komentar oleh sosok sekaliber Sapardi Djoko Damono.
Budayawan ini
jelas sangat produktif di tengah berbagai kesibukannya dengan kegiatan
kebudayaan, tanggung jawabnya di dewan pakar berbagai lembaga, serta posisinya
sebagai ketua dalam berbagai komunitas. Di tengah itu semua dia mampu
menghasilkan tulisan. Buku kecil ia terbitkan sebulan setelah pertemuan pertama
saya dengan beliau dan isinya tentang sebuah komunitas yang dibentuk bersama
tepat di hari pertama kali kami bertemu itu. Hebat gak? Orang yang sibuk tapi
seproduktif itu? Sedangkan saya? Mahasiswa yang sibuk dengan tugas akhir malah
lebih banyak menulis status atau tweet tidak
terlalu penting. Huwaaaa malu. Padahal kalau bicara teknologi mungkin saya
sedikit lebih tahu, dan harusnya bisa sedikit lebih pintar.
Saya berfikir
kenapa teknologi berhasil memperdayai saya? Saya yang lebih muda dan (mungkin)
lebih terbiasa dengan teknologi terutama smartphone
kok tidak bisa memanfaatkan itu semua dengan lebih smart? Saya bisa menulis kapan saja di handphone karena ada fitur
wordnya. Tidak nyaman? Ya seharusnya dibiasakan saja, lama-lama akan nyaman. Saya
bisa googling dan membaca banyak hal dan bahkan menyimpannya di handphone saya
untuk sewaktu-waktu dibaca saat dibutuhkan. Wah seharusnya saya bisa lebih
produktif lagi donk.
Sekarang saya bertekad
untuk lebih lebih cerdas manfaatkan teknologi. Akun sosmed memang perlu tapi
bukan kebutuhan primer. Dan satu hal
yang saya pelajari dari mereka yaitu etika dalam menggunakan teknologi. Yakni
serius menghadapi orang lain saat berbicara (terutama masalah penting) dan
menyimpan gadget di waktu-waktu tertentu. Budayawan itu saja bisa tidak
menengok handphonenya setiap waktu padahal saya bisa menduga seberapa sibuk
beliau.
Sudah waktunya
untuk kita tidak lagi menjadi budak teknologi melainkan memperbudak teknoologi.
Wuih, keren tuh kalau semua anak muda mau seperti ini. Indonesia akan jauh
lebih maju tidak lagi menjadi masyarakat konsumtif dan jadi lebih produktif
(harapan yang terlalu muluk? Ah, biarkan saya terus berharap yang terbaik untuk
negeri ini)
“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba
Ultah Blog Emak Gaoel”

http://www.emakgaoel.blogspot.com/