“After
getting married, most of us realise that we have so many differences with our
spouse. And to make our marriage work, we have to adapt. We have no other
choice” (hal. 65)

21469375
Penulis:
Nurilla Iryani
Penyunting
Noni Rosliyani
Perancang
Sampul: Wirastuti
Pemeriksa
aksara: Intan, Shera & Tiasty
Penata
aksara: Endah Aditya
Penerbit:
Bentang
Cetakan:
2014
Jumlah
hal.: vi + 270 halaman
ISBN:
978-602-291-009-1
Meski pesta
pernikahanku jauh sekali dari impianku, tetapi kebahagiaanku enggak berkurang
sedikit pun karena aku sudah resmi menikah dengan seorang pria yang membuatku
jatuh cinta setiap hari selama tiga tahun terakhir ini, Bara Wiryawan. 
Yes
Darling, let me tell you this: 
When you marry the one you love, everything is
perfect.

But now I know, Bara is not perfect enough, dan terutama sama kliennya yang
demanding banget. Argh!
—Gina

Gila, gue enggak pernah menyangka rangkaian acara pernikahan bisa bikin badan
gue pegel-pegel. Harusnya jasa pijet masuk ke dalam paket pernikahan yang
ditawarkan Wedding Organizer gue. But hey, gue tetep seneng banget karena
wanita yang selama ini gue cintai akhirnya resmi jadi istri gue. Gina Anjani,
you’re all mine now!

Until I know, tiga tahun ternyata enggak cukup buat gue mengenal Gina dan semua
rahasia besarnya. Sigh!
—Bara
***
“…
when you marry the one you love, everything is perfect.” (hal. 3)
Cerita
dibuka dengan penjabaran Gina tentang pesta pernikahan impiannya yang ternyata nggak terwujud. Tapi ternyata semua
impian itu bersedia untuk ia kubur sebab ia bisa menikah Bara, laki-laki yang
telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun. Setalah itu, cerita kehidupan Gina
dan Bara selama 30 hari dijabarkan satu persatu. Benar-benar satu persatu. Hari
per hari. Lihat saja judul babnya yang tertulis Day 1:  Minggu hingga di bab
terakhir tertulis Day 30: Senin.

Tapi
meski rentang cerita cukup pendek yakni 30 hari namun banyak hal menarik yang
diketengahkan oleh penulis. Tentang bagaimana Gina dan Bara yang meski sudah
berpacaran selama tiga tahun, masih perlu penyesuaian di sana-sini. Tentang Gina
yang menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder) sehingga tidak bisa melihat
ruangan atau susunan barang yang berantakan namun harus terus menahan kesabaran
melihat kebiasaan Bara yang tidak peduli pada detail. Di lain pihak Bara merasa
tidak nyaman dengan Gina yang dirasanya terlalu cerewet.

Konflik
pun muncul dari dalam hubungan mereka. Ditambah lagi dengan Gina yang ternyata
menyembunyikan kenyataan bahwa ia punya hutang puluhan juta rupiah. Bara yang
mengetahui hal ini sangat marah. Ia merasa dibohongi. Gina ternyata memiliki
hobby shopping yang gila-gilaan yang membuat tagihan kartu kreditnya mencapai
puluhan juta rupiah.
Selain
itu, kehadiran Elsa, mantan kekasih Bara, sebagai klien Bara menambah daftar
perselisihan mereka. Semua ini menjadi masalah yang mengisi kehidupan mereka dalam
satu bulan pertama. Belum lagi keresahan tentang keinginan untuk segera
memiliki anak namun Gina belum kunjung hamil.
Hm..jadi
ingin bertanya pada mereka yang sudah menikah, apa iya sebulan pertama
konfliknya bisa “seseru” itu?? (>_<) *pertanyaan seorang single*
“Simple
reason: your happiness is my responsibility. Oh, and your smile is my little
heaven.” (hal. 87)
***
“Aku
pernah baca, 90% of your happiness come from the one you marry” (hal. 3)
Awal
baca buku ini, saya langsung berpikir, ini serius pernikahan bisa seheboh itu?
Masa iya, sejak malam pertama suami istri udah ngedumel sendiri dalam hati seperti yang dilakukan Gina dan Bara?
Jadi
ingat pesan papa, “Pernikahan itu tidak akan senang-senang terus. Bahkan sejak
selesainya pesta pernikahan, kamu dan pasanganmu pasti langsung bingung
sendiri. Setelah ini harus bagaimana? Ngembaliin pernak-pernik pesta
pernikahannya gimana? Bagi waktu silaturahim ke keluarga dan keluarga suamimu
gimana? Belum lagi kalau ternyata suamimu tidurnya ngorok. Ha..ha.. Jadi jangan
harap bakalan banyak enak-enaknya.”
Di
awal-awal membaca novel ini saya jadi berpikir, “Ini kenapa kesannya menikah
itu ngeri-ngeri gimana gitu ya?” Tapi syukurlah, penulis memang mengetengahkan
masalah namun juga menampilkan solusi ala tokoh-tokohnya. Karakter Gina yang
mandiri namun mau belajar memudahkan penyesuaian dirinya dengan kehidupan
sebagai seorang istri. Sikap Bara yang penyabar membuatnya mampu menghadapi
Gina yang lebih sering keras kepala dan gampang marah.
Pembaca
disuguhi kehidupan penuh kompromi yang dijalani oleh Gina dan Bara. Mereka juga
ditampilkan sebagai sosok yang tidak sempurna namun saling mengisi. Hal ini
semakin menarik sebab penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari
kedua tokoh tersebut secara bergantian. Membuat pembaca bisa mengetahui seluruh
bagian cerita secara utuh. Namun meskipun begitu tidak ada pengulangan yang
bisa membuat pembaca bosan karena plot cerita menggunakan alur maju.
Sayangnya,
meski menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Gina dan
Bara, yang paling banyak dijelaskan adalah logika perempuan. Dari sisi Gina,
logika perempuan ini menjadi alasan bagi Gina menentukan sikapnya sedangkan
dari sisi Bara logika perempuan ini membuat Bara berusaha memahami sikap Gina. Seperti
yang ditampilkan di halaman 181, “I don’t understand why women remember so
many things. Mulai dari tanggal jadian, tempat kali pertama nge-date, film
pertama yang ditonton bareng.”
Namun meskipun begitu, sikap Bara tetap
ditampilkan maskulin tidak bersifat perempuan. Sebab biasanya penulis perempuan
agak kesulitan menampilkan tokoh utama laki-laki yang tidak terasa feminim.
Penulis berhasil melewati jebakan tersebut.
Oiya,
ada satu protes yang menarik yang ditampilkan lewat sudut pandang Bara. Di
halaman 121, saat menduga Gina hamil, Bara segera meng-googling informasi tentang kehamilan. Bara kemudian merutuk dalam
hati, “… artikel-artikel ini memanggil pembacanya dengan sebutan ‘Bunda’.
Mereka enggak pernah mempertimbangkan kalau yang baca ini laki-laki, ya?”
Apakah
jumlah laki-laki yang berpikir seperti Bara cukup banyak? Kalau iya, berarti
ini menjadi masukan yang menarik nih bagi para penulis artikel tentang
kehamilan dan parenting. 
Secara
keseluruhan kisah kehidupan Bara dan Gina menarik diikuti meskipun intensitas
konfliknya kurang tajam. Puncak konfliknya agak samar sebab cukup banyak hal
menjadi pemicunya. Selain itu ada satu nilai plus yang akan membuat perempuan
muda menyukai buku ini. Yaitu selipan resep-resep makanan dan snack yang cukup
mudah dipraktekkan. Ini karena Gina sebagai perempuan yang juga bekerja di luar
rumah harus bisa mentaktisi kondisi agar ia tetap bisa memasak dan menyenangkan
suaminya.
“Menurutku,
cinta itu sesuatu yang harus tetap dijaga, seperti tanaman. Harus dipupuk
terus, sedikit, tapi rutin agar terus tumbuh dengan baik. bukan banyak, tapi
jarang. Hal-hal kecil yang rutin kita lakukan untuk menjaga cinta kita yang
akan membuatnya bertahan. Bukan dicuekin kelamaan, dan sesekali ditengokin.”
(Hal. 173)
***
Puisi
inspired by Yummy Tummy Marriage
http://photos-f.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10665595_1550417075225021_1554122376_n.jpg
Sumber
foto: instagram
 Will you marry me?
Ketika mengetahui betapa aku menggilai buku
dan tak mengakrabi wajan dan kompor
Will you marry me?
Jika tahu bahwa kekeraskepalaanku kadang
menjengkelkan kawan-kawanku
Will you marry me?
Jika yang bisa kujanjikan hanyalah kesediaan
untuk belajar menjadi pendamping yang baik bagimu
 ***
“You
know, happy wife makes a happy husband.” (hal. 50)